Tersisa Dua Betina, Harapan Badak Putih Utara Bertumpu pada Sains

Najin dan Fatu menjadi dua badak putih utara terakhir di dunia. Ilmuwan berupaya menyelamatkan subspesies tersebut melalui produksi dan transfer embrio.

16 September 2026 | 22:22 WIB25 Views

Tersisa Dua Betina, Harapan Badak Putih Utara Bertumpu pada Sains

Internasional25 Views

NANYUKI, MIMBARBANGSA.COM Nasib badak putih utara kini berada di titik kritis. Hanya dua individu betina bernama Najin dan Fatu yang masih bertahan, membuat kelangsungan subspesies tersebut bergantung pada teknologi reproduksi berbantu yang dikembangkan para ilmuwan.

Kedua badak tersebut berada di Ol Pejeta Conservancy, Kenya. Karena tidak ada lagi pejantan yang hidup dan keduanya tidak dapat melanjutkan perkembangbiakan secara alami, badak putih utara dinyatakan telah mengalami kepunahan secara fungsional.

Namun, para peneliti belum menyerah. Konsorsium internasional BioRescue terus mengembangkan fertilisasi in vitro atau IVF, produksi embrio, transfer embrio, dan teknologi sel punca untuk membuka peluang kelahiran generasi baru badak putih utara.

Berdasarkan laporan resmi BioRescue, Najin dan Fatu merupakan dua badak putih utara terakhir yang masih hidup. Proyek tersebut dipimpin Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research atau Leibniz-IZW dengan melibatkan sejumlah lembaga konservasi dan penelitian internasional.

Embrio Baru Menambah Harapan

Perkembangan penting terjadi pada awal 2026. Tim ilmuwan berhasil mengambil sel telur dari Fatu di Ol Pejeta Conservancy. Sel telur tersebut kemudian diproses dan menghasilkan satu embrio badak putih utara baru.

Keberhasilan itu membuat jumlah embrio murni badak putih utara yang telah dihasilkan bertambah menjadi 39. Embrio dibuat menggunakan sel telur Fatu yang dibuahi dengan sperma beku dari pejantan badak putih utara yang telah mati.

Jumlah tersebut menjadi modal penting dalam misi penyelamatan, tetapi belum menjamin keberhasilan kelahiran. Para ilmuwan masih menghadapi tahap paling rumit, yakni menanamkan embrio ke rahim induk pengganti sampai menghasilkan kehamilan yang bertahan dan kelahiran yang sehat.

Najin dan Fatu tidak digunakan untuk mengandung embrio karena pertimbangan kesehatan serta kondisi reproduksinya. Karena itu, tim BioRescue menggunakan badak putih selatan sebagai calon induk pengganti.

Secara biologis, badak putih selatan memiliki kedekatan dengan badak putih utara. Kesamaan itu memberi peluang bagi badak putih selatan untuk mengandung embrio dari subspesies utara.

Transfer Embrio Belum Menghasilkan Kehamilan Jangka Panjang

Pada paruh kedua 2025, tim yang terdiri atas Kenya Wildlife Service, Wildlife Research and Training Institute, Ol Pejeta Conservancy, Leibniz-IZW, Safari Park Dvůr Králové, Avantea, serta Universitas Padua melaksanakan tiga kali transfer embrio kepada badak putih selatan.

Meski prosedur transfer berhasil dilakukan, ketiga percobaan tersebut belum menghasilkan kehamilan jangka panjang. Tim kemudian memasukkan dua badak putih selatan betina yang telah terbukti mampu bereproduksi sebagai calon induk pengganti tambahan.

Hingga April 2026, BioRescue tercatat baru melakukan enam kali transfer embrio. Para peneliti menekankan bahwa penerapan IVF pada badak merupakan prosedur yang sangat kompleks dan belum memiliki sejarah panjang seperti teknologi reproduksi berbantu pada manusia.

“Ilmu pengetahuan tidak selalu berjalan lurus,” demikian penjelasan tim dalam laporan perkembangan program tersebut. Setiap kegagalan dan hambatan digunakan untuk memperbaiki prosedur pada percobaan berikutnya.

Leibniz-IZW menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini bukan hanya ditujukan untuk badak putih utara. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan menjadi dasar bagi penyelamatan mamalia lain yang berada di ambang kepunahan.

Teknologi Bukan Pengganti Perlindungan Habitat

Program penyelamatan badak putih utara juga menimbulkan pembahasan mengenai etika, kesejahteraan satwa, dan prioritas dalam konservasi. Teknologi reproduksi berbantu dinilai harus diterapkan dengan pengawasan ketat serta tidak menggantikan metode konservasi yang telah ada.

Penelitian BioRescue yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE pada Februari 2026 menemukan adanya dukungan publik terhadap pemanfaatan teknologi reproduksi untuk konservasi satwa. Namun, dukungan tersebut disertai tuntutan agar kesejahteraan hewan dan pengawasan etika tetap menjadi prioritas.

Perlindungan habitat, pengamanan satwa dari perburuan, konservasi berbasis kebun binatang, serta keterlibatan masyarakat tetap dibutuhkan. Teknologi IVF hanya menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.

Kondisi badak putih utara menjadi peringatan bahwa penyelamatan satwa tidak dapat menunggu sampai populasinya hanya tersisa beberapa individu. Ketika jumlahnya telah berada pada titik kritis, pilihan yang tersedia menjadi sangat terbatas, mahal, dan penuh ketidakpastian.

Meskipun belum ada kehamilan jangka panjang yang berhasil, keberadaan 39 embrio tetap memberi secercah harapan. Perjalanan menuju kelahiran badak putih utara melalui induk pengganti masih panjang, tetapi para ilmuwan terus memperbaiki metode berdasarkan hasil setiap percobaan.

Redaksi MIMBARBANGSA.COM mengapresiasi kerja sama para ilmuwan dan lembaga konservasi dalam mempertahankan badak putih utara. Upaya ilmiah tersebut perlu berjalan beriringan dengan perlindungan habitat, penegakan hukum terhadap perburuan, kesejahteraan satwa, dan pendidikan konservasi kepada masyarakat.