Tips Membangun Kekayaan Menurut Bos BCA

Kenali Tips Membangun Kekayaan Menurut Bos BCA dan informasi pentingnya. Jakarta, MimbarBangsa.co.id – Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk.

11 September 2022 | 11:19 WIB41,749 Views

Tips Membangun Kekayaan Menurut Bos BCA

Ekonomi41,749 Views

JAKARTA, MIMBARBANGSA.COM Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Armand Wahyudi Hartono, pernah membagikan kerangka sederhana untuk memahami bagaimana kekayaan atau wealth dapat dibangun secara berkelanjutan. Dalam BCA Wealth Summit 2022 di Jakarta, ia menyoroti tiga dimensi utama, yakni energi, waktu, dan ruang.

Gagasan tersebut tidak menempatkan kekayaan semata-mata sebagai jumlah uang atau nilai aset. Armand mengaitkannya dengan kemampuan menciptakan nilai melalui usaha, mempertahankan proses dalam jangka panjang, serta membangun lingkungan atau ekosistem yang mendukung pertumbuhan.

Pernyataan Armand disampaikan dalam rangkaian BCA Wealth Summit 2022 yang berlangsung secara luring pada 8–9 September 2022 di Jakarta. BCA saat itu menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memberikan literasi dan solusi wealth management kepada nasabah dan masyarakat.

BCA mencatat lebih dari 1.500 nasabah menghadiri penyelenggaraan luring BCA Wealth Summit 2022. Setelah sesi tatap muka, rangkaian kegiatan juga dilanjutkan secara daring untuk masyarakat.

Forum tersebut antara lain membahas akumulasi kekayaan, perlindungan kekayaan, distribusi kekayaan, konsultasi, hingga edukasi mengenai produk investasi dan proteksi. Konteks ini penting karena gagasan Armand disampaikan sebagai bagian dari literasi pengelolaan kekayaan, bukan janji bahwa metode tertentu akan menghasilkan keuntungan bagi setiap orang.

Energi: Menciptakan Nilai dari Usaha dan Pengetahuan

Dimensi pertama yang ditekankan Armand adalah energi. Menurut dia, kekayaan tidak muncul tanpa usaha yang menghasilkan nilai tambah.

“Caranya dengan membangun bisnis dan menggali nilai tambah,” kata Armand dalam acara tersebut.

Energi dalam konteks ini dapat dipahami sebagai kombinasi kerja, kemampuan, pengetahuan, dan pengelolaan yang membuat suatu kegiatan ekonomi berkembang. Armand juga menekankan pentingnya pengetahuan dalam proses membangun kekayaan.

Bagi individu, prinsip tersebut tidak harus diterjemahkan sebagai kewajiban membangun perusahaan besar. Nilai tambah dapat tercipta melalui peningkatan keterampilan, produktivitas, pengembangan usaha, inovasi, maupun kemampuan mengelola sumber daya secara lebih efisien.

Dengan demikian, membangun kekayaan bukan sekadar mengejar pemasukan sebesar-besarnya. Ada proses menciptakan sesuatu yang mempunyai nilai dan dapat terus dikembangkan.

Energi tanpa arah bahkan dapat menghasilkan banyak aktivitas tetapi sedikit nilai tambah. Karena itu, pengetahuan, perencanaan, dan kemampuan mengelola sumber daya menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Waktu: Kekayaan Memerlukan Proses Panjang

Dimensi kedua adalah waktu. Armand memandang kekayaan sebagai sesuatu yang dibangun melalui proses panjang, termasuk kemampuan melewati perubahan, kegagalan, serta pergantian model bisnis.

Dalam penjelasannya, ia menyinggung perjalanan bisnis yang dapat berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bisnis dapat mengalami pasang surut, tetapi nilai yang telah dibangun masih dapat dipertahankan apabila dikelola secara tepat dalam jangka panjang.

Pandangan tersebut menekankan pentingnya kesinambungan. Aset, usaha, dan kemampuan finansial tidak hanya perlu dibentuk, tetapi juga dijaga, dievaluasi, serta disesuaikan dengan perubahan keadaan.

Waktu juga membuat keputusan finansial perlu dipandang dalam perspektif yang lebih panjang. Keinginan memperoleh hasil cepat sebaiknya tidak menghilangkan pertimbangan terhadap keberlanjutan, ketahanan usaha, maupun kemampuan menghadapi risiko.

Karena itu, dimensi waktu dapat dibaca sebagai pengingat bahwa proses membangun kekayaan membutuhkan konsistensi dan kemampuan beradaptasi.

Ruang: Kekayaan Tumbuh dalam Sebuah Ekosistem

Dimensi ketiga adalah ruang. Armand menggunakan konsep tersebut untuk menggambarkan lingkungan atau ekosistem yang memungkinkan kekayaan berkembang.

“Bisnis tidak berdiri sendiri, tapi dikelilingi oleh lingkungan sekitar,” tutur Armand.

Sebuah usaha memang tidak berjalan sendirian. Bisnis terhubung dengan pelanggan, pemasok, tenaga kerja, teknologi, jaringan, kondisi ekonomi, hingga kebijakan dan regulasi.

Kerangka ruang menunjukkan bahwa keberhasilan finansial tidak hanya ditentukan keputusan individu. Lingkungan yang kondusif, akses terhadap pengetahuan, jaringan yang sehat, tata kelola yang baik, dan kemampuan membaca perubahan pasar dapat ikut memengaruhi keberlanjutan sebuah usaha.

Ekosistem yang kurang sehat, sebaliknya, dapat memperbesar risiko meskipun seseorang memiliki modal atau kemampuan yang cukup.

Jika dirangkum, tiga dimensi yang disampaikan Armand membentuk rangkaian yang saling berhubungan. Energi digunakan untuk menciptakan nilai, waktu menguji kemampuan mempertahankan nilai tersebut, sedangkan ruang menentukan bagaimana nilai dapat berkembang dalam suatu ekosistem.

Bukan Formula Cepat Menjadi Kaya

Meski demikian, kerangka energi, waktu, dan ruang bukan formula yang menjamin seseorang menjadi kaya. Dalam praktik pengelolaan keuangan, setiap keputusan tetap memiliki risiko dan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan bahwa setiap investor mempunyai toleransi terhadap risiko yang berbeda. Tidak ada satu instrumen investasi yang cocok bagi semua orang.

Karena itu, sebelum berinvestasi, masyarakat perlu memahami antara lain karakteristik produk, manfaat, biaya, risiko, serta kesesuaiannya dengan tujuan dan kemampuan finansial.

Prinsip tersebut penting agar pembahasan mengenai pembangunan kekayaan tidak berhenti pada upaya mengejar keuntungan atau imbal hasil. Pengelolaan keuangan juga membutuhkan kemampuan memahami risiko, menjaga kondisi keuangan, serta mengambil keputusan secara rasional.

Profil Armand Hartono

Hingga 2026, BCA masih mencatat Armand Wahyudi Hartono sebagai Wakil Presiden Direktur. Profil resmi perseroan menyebut Armand telah menjadi Direktur BCA sejak 2009 setelah sebelumnya menjabat Kepala Perencanaan dan Pembinaan Wilayah BCA pada 2004–2009.

Sebelum bergabung dengan BCA, ia pernah menduduki sejumlah posisi eksekutif di PT Djarum pada periode 1998–2004. Armand juga pernah menjadi analis pada Global Credit Research and Investment Banking JP Morgan Singapura pada 1997–1998.

Riwayat pendidikan resmi BCA mencatat Armand sebagai lulusan University of California, San Diego pada 1996. Ia kemudian meraih gelar Master of Science di bidang Engineering Economic System and Operation Research dari Stanford University, Amerika Serikat, pada 1997.

Bagi pembaca, pesan utama dari kerangka energi, waktu, dan ruang adalah bahwa membangun kekayaan merupakan proses yang melibatkan penciptaan nilai, ketekunan jangka panjang, dan lingkungan yang mendukung.

Hasil akhirnya tetap bergantung pada keputusan, kemampuan, risiko, serta situasi finansial masing-masing orang. Karena itu, prinsip membangun kekayaan sebaiknya berjalan beriringan dengan literasi keuangan dan pengelolaan risiko.