Pada saat yang sama, negara-negara Aliansi NATO mengerahkan peralatannya ke perbatasan Rusia, meningkatkan aktivitas pengintaian dan mengasah taktik serangan. Yang menjadi perhatian khusus bagi pihak Rusia adalah fakta bahwa ekspansi NATO terus berlanjut. Dalam konteks ini pernyataan yang dibesar-besarkan oleh media Barat tentang pengerahan tentara Rusia ke perbatasan justru sungguh membingungkan.
Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin sudah beberapa kali secara terbuka mengucapkan bahwa “konflik bersenjata sama sekali bukan menjadi pilihan kami, kami tidak menginginkan perkembangan peristiwa seperti itu”.
Posisi Moscow tidak berubah: Rusia adalah negara yang benar-benar memahami apa itu perang (negara kami kehilangan 27 juta orang dalam Perang Dunia II), sebagai salah satu peserta dalam peristiwa terkini di sekitar Ukraina, kami justru paling tidak menginginkan terjadinya eskalasi ketegangan di wilayah tersebut. Sebagaimana telah disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov “jika itu tergantung pada Federasi Rusia, maka perang tidak akan terjadi. Kami tidak menginginkan perang”.
Saya ingin menggarisbawahi bahwa pernyataan-pernyataan resmi tersebut dibuktikan tindakan nyata. Demikian, baru selesai latihan militer di Krimea (penyatuan kembali (reunifikasi) semenanjung dengan tanah air bersejarah menjadi mungkin karena merupakan ungkapan keinginan pribadi penduduknya, disampaikan melalui suara yang diberikan dalam referendum terbuka untuk kembali bergabung dengan Federasi Rusia), setelah itu pasukan segera pulang ke penempatan permanen mereka. Selain itu pada tanggal 20 Februari, 2022 direncanakan penyelesaian latihan bersama dengan Republik Belarus.
Berkaitan dengan hal ini kami mengimbau semua pihak untuk menghentikan pemicu ketegangan buatan tentang situasi di perbatasan Rusia- Ukraina dan mengambil langkah-langkah praktis bertujuan untuk mencapai deeskalasi nyata dan penyelesaian konflik di Donbass berdasarkan Kesepakatan Minsk yang tidak ada alternatif.