Sebelumnya, karena Perjanjian INF (Perjanjian Kekuatan Nuklir Jangka Menengah), Amerika Serikat dan Rusia dilarang memproduksi rudal jarak pendek dan menengah tersebut. Namun, karena Amerika Serikat (oleh Donald Trump) menarik diri dari perjanjian Perang Dingin tersebut, Rusia kini mulai membangun rudal permukaan-ke-permukaan lagi.
Hingga saat ini, rudal pembunuh ini hanya bisa ditembakkan dari kapal perang dan kapal selam. Tak hanya itu, Putin mengizinkan Angkatan Laut Rusia membangun drone atau torpedo bawah air. Torpedo ini juga memiliki kemampuan untuk melakukan atomisasi nuklir. Itu bisa ditarik oleh kapal selam.
Bunker nuklir Rusia sudah ada di bukit Ural
Putin menegaskan bahwa Amerika Serikat dan NATO menganggap Rusia sebagai musuh militer utamanya dan berencana untuk melakukan serangan nuklir sebagai tanggapan atas serangan konvensionalnya.
Dia juga mengatakan bahwa sistem kendali senjata melemah. Kemudian, Rusia membangun bunker bawah tanah ini untuk mengantisipasi kabar dari Amerika ini.
Putin mengatakan semua peralatan dan sistem komunikasi harus sesederhana dan dapat diandalkan seperti senapan AK-47. Putin percaya bahwa serangan nuklir di negara itu akan menghasilkan serangan kontra-nuklir dengan bantuan bunker ini.
Saat ini, Rusia sudah memiliki dua bunker, salah satunya di pegunungan Ural bagian utara dan satu lagi di pegunungan Ural bagian selatan di Yamatau. Namun, Amerika pun tak tinggal diam dengan upaya Rusia dalam membangun bunker perlindungan tersebut.
