Drainase Menjadi Penanganan Utama
Abses anus berbeda dengan sejumlah infeksi kulit ringan yang mungkin cukup ditangani menggunakan obat. Pada kebanyakan kasus, terapi utama abses anorektal adalah membuka dan mengeluarkan nanah atau drainase.
Prosedur dilakukan dengan membuat sayatan pada abses sehingga nanah dapat keluar dan tekanan di dalam jaringan berkurang. Abses yang kecil dan dangkal dalam kondisi tertentu dapat ditangani dengan prosedur sederhana, sedangkan abses yang besar, dalam, atau kompleks dapat membutuhkan tindakan di ruang operasi.
Antibiotik saja bukan pengganti drainase pada abses yang memang memerlukan pengeluaran nanah. Pemberian antibiotik secara rutin setelah drainase juga tidak selalu diperlukan pada abses sederhana tanpa komplikasi.
Namun, antibiotik dapat dibutuhkan pada keadaan tertentu, misalnya terdapat infeksi kulit yang luas, gangguan imunitas, atau tanda infeksi sistemik. Karena itu, keputusan menggunakan antibiotik harus berdasarkan pemeriksaan dokter dan kondisi pasien.
Pasien sebaiknya tidak mencoba memencet, menusuk, atau mengeluarkan nanah sendiri karena dapat memperburuk infeksi maupun melukai jaringan di sekitar anus.
Salah Satu Komplikasi Penting adalah Fistula Ani
Abses anus dapat berkembang menjadi fistula ani, yaitu terbentuknya saluran abnormal yang menghubungkan bagian dalam anus dengan kulit di sekitarnya.
Fistula cukup sering berhubungan dengan abses anus, baik ditemukan bersamaan maupun muncul setelah abses sebelumnya telah ditangani. Fistula dapat menyebabkan keluarnya cairan atau nanah secara berulang, iritasi kulit, serta episode pembengkakan dan nyeri yang datang kembali.
