JAKARTA, MIMBARBANGSA.COM — Benjolan yang terasa sangat nyeri di sekitar anus tidak selalu merupakan wasir. Keluhan tersebut dapat disebabkan abses anus, yaitu terbentuknya rongga berisi nanah akibat infeksi pada jaringan di sekitar anus atau rektum.
Abses anus umumnya menimbulkan nyeri yang terus-menerus, pembengkakan, kemerahan, dan rasa tidak nyaman yang dapat semakin berat ketika duduk atau buang air besar. Pada abses yang lebih dalam, benjolan dari luar bahkan tidak selalu terlihat.
Kondisi ini perlu diperiksa tenaga medis karena infeksi dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Berawal dari Infeksi Kelenjar Anus
Sebagian besar abses anorektal berawal ketika kelenjar kecil di bagian dalam anus tersumbat dan kemudian mengalami infeksi.
Bakteri dapat berkembang di dalam jaringan tersebut sehingga terbentuk rongga berisi nanah. Lokasi abses dapat berada tepat di bawah kulit sekitar anus maupun lebih dalam di sekitar rektum.
Beberapa keadaan lain dapat berkaitan dengan abses anus, seperti luka atau robekan pada anus yang mengalami infeksi dan cedera pada daerah tersebut.
Beberapa kondisi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya abses anorektal. Di antaranya penyakit Crohn, diabetes, gangguan daya tahan tubuh, serta kondisi lain yang membuat seseorang lebih rentan mengalami infeksi. Merokok, obesitas, dan keadaan imunokompromais juga tercatat sebagai sejumlah faktor risiko.
Gejalanya Bisa Sangat Mengganggu
Nyeri di sekitar anus merupakan salah satu keluhan utama. Rasa sakit dapat muncul tiba-tiba, berdenyut atau terasa menusuk, dan berlangsung terus-menerus.
Pembengkakan, kemerahan, rasa hangat dan nyeri ketika area tersebut disentuh juga dapat terjadi. Sebagian penderita mengalami demam, menggigil, tubuh terasa lemah, keluarnya nanah atau darah, serta gangguan berkemih.
Pada abses yang berada lebih dalam, gejalanya dapat berbeda. Pasien mungkin terutama merasakan tekanan atau nyeri di dalam rektum atau panggul tanpa adanya benjolan yang jelas dari luar. Kondisi seperti ini membutuhkan evaluasi lebih lanjut karena pemeriksaan visual saja mungkin tidak cukup.
Keluhan tersebut juga dapat menyerupai kondisi lain di sekitar anus, termasuk wasir, fisura ani, infeksi kulit, atau penyakit lain. Karena itu, benjolan yang nyeri sebaiknya tidak didiagnosis sendiri hanya berdasarkan penampilan.
Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?
Sebagian besar abses anus dapat dikenali melalui riwayat keluhan dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menilai lokasi nyeri, kemerahan, pembengkakan, serta kemungkinan adanya kumpulan nanah.
Pada kondisi tertentu, pemeriksaan lebih lanjut dapat diperlukan. USG, CT scan, atau MRI dapat membantu menemukan abses yang berada lebih dalam atau menilai jalur fistula yang mungkin terbentuk.
Pemeriksaan tambahan juga dapat dilakukan apabila dokter menduga terdapat penyakit lain yang mendasari, misalnya penyakit Crohn, diabetes, atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
Drainase Menjadi Penanganan Utama
Abses anus berbeda dengan sejumlah infeksi kulit ringan yang mungkin cukup ditangani menggunakan obat. Pada kebanyakan kasus, terapi utama abses anorektal adalah membuka dan mengeluarkan nanah atau drainase.
Prosedur dilakukan dengan membuat sayatan pada abses sehingga nanah dapat keluar dan tekanan di dalam jaringan berkurang. Abses yang kecil dan dangkal dalam kondisi tertentu dapat ditangani dengan prosedur sederhana, sedangkan abses yang besar, dalam, atau kompleks dapat membutuhkan tindakan di ruang operasi.
Antibiotik saja bukan pengganti drainase pada abses yang memang memerlukan pengeluaran nanah. Pemberian antibiotik secara rutin setelah drainase juga tidak selalu diperlukan pada abses sederhana tanpa komplikasi.
Namun, antibiotik dapat dibutuhkan pada keadaan tertentu, misalnya terdapat infeksi kulit yang luas, gangguan imunitas, atau tanda infeksi sistemik. Karena itu, keputusan menggunakan antibiotik harus berdasarkan pemeriksaan dokter dan kondisi pasien.
Pasien sebaiknya tidak mencoba memencet, menusuk, atau mengeluarkan nanah sendiri karena dapat memperburuk infeksi maupun melukai jaringan di sekitar anus.
Salah Satu Komplikasi Penting adalah Fistula Ani
Abses anus dapat berkembang menjadi fistula ani, yaitu terbentuknya saluran abnormal yang menghubungkan bagian dalam anus dengan kulit di sekitarnya.
Fistula cukup sering berhubungan dengan abses anus, baik ditemukan bersamaan maupun muncul setelah abses sebelumnya telah ditangani. Fistula dapat menyebabkan keluarnya cairan atau nanah secara berulang, iritasi kulit, serta episode pembengkakan dan nyeri yang datang kembali.
Komplikasi lain dapat berupa abses yang kambuh, penyebaran infeksi pada jaringan sekitar, hingga sepsis pada infeksi berat. Abses anorektal yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi infeksi sistemik yang serius.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan bila muncul benjolan yang nyeri, bengkak atau kemerahan di sekitar anus, terutama jika keluhan terus bertambah berat.
Pertolongan lebih segera diperlukan jika keluhan disertai demam atau menggigil, nyeri yang sangat berat, tubuh terasa sangat lemah, sulit berkemih, atau tanda-tanda infeksi semakin meluas.
Semakin cepat abses dikenali dan ditangani, semakin cepat pula sumber infeksi dapat dikendalikan. Setelah tindakan, pasien tetap perlu mengikuti jadwal kontrol karena fistula atau kekambuhan dapat muncul meskipun abses sebelumnya telah berhasil didrainase.
Informasi kesehatan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau tindakan langsung oleh dokter.







