Penderita dapat mengalami nyeri saat menelan, sulit menelan, demam, menggigil, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, bau mulut, serta produksi air liur yang meningkat karena sulit menelan.
Gejala lain yang cukup khas adalah trismus, yakni kesulitan membuka mulut. Suara penderita juga dapat berubah menjadi terdengar teredam atau dikenal dalam istilah medis sebagai hot potato voice.
Pada pemeriksaan tenggorokan, dokter dapat menemukan amandel yang membengkak, kemerahan, pembengkakan jaringan di sekitarnya, dan perubahan posisi uvula.
Jika pembengkakan semakin berat, pasien dapat kesulitan mempertahankan jalan napas. Kondisi seperti sesak napas, air liur terus keluar karena tidak dapat ditelan, atau kesulitan makan dan minum memerlukan pertolongan medis segera.
Bagaimana Diagnosis Dilakukan?
Diagnosis umumnya dimulai dari wawancara mengenai keluhan dan pemeriksaan langsung terhadap mulut, tenggorokan, serta leher.
Kombinasi sakit tenggorokan berat, trismus, perubahan suara, dan pergeseran uvula dapat mengarahkan dokter pada dugaan abses peritonsil. Namun, membedakan abses dengan peradangan jaringan tanpa terbentuknya kantong nanah tidak selalu mudah hanya dari pemeriksaan fisik.
Dokter dapat melakukan aspirasi menggunakan jarum untuk mengetahui apakah terdapat nanah. Bila diagnosis belum jelas, pemeriksaan ultrasonografi atau CT scan leher dapat membantu menentukan lokasi dan luas infeksi serta membedakannya dari infeksi ruang leher lainnya.
Sampel nanah yang diperoleh saat tindakan juga dapat diperiksa di laboratorium untuk membantu mengidentifikasi mikroorganisme penyebab dan menentukan antibiotik yang sesuai pada kondisi tertentu.
