Abses Peritonsil Bisa Ganggu Pernapasan, Kenali Gejala dan Penanganannya

Abses peritonsil adalah kantong nanah di dekat amandel yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan sulit menelan. Kenali gejala, penyebab, dan penanganannya.

18 September 2026 | 03:09 WIB25 Views

Abses Peritonsil Bisa Ganggu Pernapasan, Kenali Gejala dan Penanganannya

Kesehatan25 Views

JAKARTA, MIMBARBANGSA.COM Sakit tenggorokan yang sangat berat, terutama hanya pada satu sisi, disertai sulit menelan dan sulit membuka mulut dapat menjadi tanda abses peritonsil. Kondisi ini terjadi ketika terbentuk kantong berisi nanah pada jaringan di sekitar amandel.

Abses peritonsil atau peritonsillar abscess termasuk infeksi ruang dalam leher yang cukup sering ditemukan, terutama pada remaja dan dewasa muda. Kondisi tersebut kerap muncul setelah tonsilitis atau faringitis, meskipun tidak setiap kasus memiliki riwayat radang amandel sebelumnya.

Abses peritonsil dapat menyebabkan nyeri hebat dan pembengkakan di sekitar amandel sehingga penderitanya kesulitan makan maupun minum. Kondisi berat dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan jalan napas.

Infeksi Berkembang di Sekitar Amandel

Abses peritonsil umumnya terbentuk ketika infeksi dari tenggorokan atau amandel menyebar ke jaringan di sekitarnya. Infeksi tersebut biasanya melibatkan beberapa jenis bakteri, baik bakteri aerob maupun anaerob.

Bakteri yang dapat ditemukan antara lain kelompok Streptococcus, Staphylococcus, serta berbagai bakteri anaerob yang hidup di area mulut dan tenggorokan. Karena penyebabnya dapat melibatkan lebih dari satu mikroorganisme, pemilihan antibiotik harus dilakukan berdasarkan pertimbangan dokter.

Abses biasanya terjadi pada satu sisi tenggorokan. Ketika kantong nanah membesar, jaringan sekitar amandel dapat membengkak dan mendorong uvula atau anak tekak menjauh dari sisi yang terkena.

Gejala yang Perlu Diperhatikan

Keluhan yang khas adalah sakit tenggorokan berat pada satu sisi. Rasa sakit juga dapat menjalar ke telinga pada sisi yang sama.

Penderita dapat mengalami nyeri saat menelan, sulit menelan, demam, menggigil, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, bau mulut, serta produksi air liur yang meningkat karena sulit menelan.

Gejala lain yang cukup khas adalah trismus, yakni kesulitan membuka mulut. Suara penderita juga dapat berubah menjadi terdengar teredam atau dikenal dalam istilah medis sebagai hot potato voice.

Pada pemeriksaan tenggorokan, dokter dapat menemukan amandel yang membengkak, kemerahan, pembengkakan jaringan di sekitarnya, dan perubahan posisi uvula.

Jika pembengkakan semakin berat, pasien dapat kesulitan mempertahankan jalan napas. Kondisi seperti sesak napas, air liur terus keluar karena tidak dapat ditelan, atau kesulitan makan dan minum memerlukan pertolongan medis segera.

Bagaimana Diagnosis Dilakukan?

Diagnosis umumnya dimulai dari wawancara mengenai keluhan dan pemeriksaan langsung terhadap mulut, tenggorokan, serta leher.

Kombinasi sakit tenggorokan berat, trismus, perubahan suara, dan pergeseran uvula dapat mengarahkan dokter pada dugaan abses peritonsil. Namun, membedakan abses dengan peradangan jaringan tanpa terbentuknya kantong nanah tidak selalu mudah hanya dari pemeriksaan fisik.

Dokter dapat melakukan aspirasi menggunakan jarum untuk mengetahui apakah terdapat nanah. Bila diagnosis belum jelas, pemeriksaan ultrasonografi atau CT scan leher dapat membantu menentukan lokasi dan luas infeksi serta membedakannya dari infeksi ruang leher lainnya.

Sampel nanah yang diperoleh saat tindakan juga dapat diperiksa di laboratorium untuk membantu mengidentifikasi mikroorganisme penyebab dan menentukan antibiotik yang sesuai pada kondisi tertentu.

Pengobatan Tidak Cukup dengan Obat Tenggorokan Biasa

Penanganan abses peritonsil berfokus pada menjaga jalan napas, mengatasi dehidrasi dan nyeri, memberikan antibiotik, serta mengeluarkan kumpulan nanah apabila diperlukan.

Drainase dapat dilakukan melalui aspirasi menggunakan jarum maupun dengan membuat sayatan kecil agar nanah dapat keluar. Pemilihan prosedur disesuaikan dengan kondisi pasien dan penilaian dokter.

Sebagian pasien dapat ditangani sebagai pasien rawat jalan setelah kondisinya stabil dan mampu minum serta mengonsumsi obat. Namun, pasien dengan dehidrasi, gangguan pernapasan, infeksi berat, atau kondisi lain yang membutuhkan pemantauan dapat memerlukan perawatan di rumah sakit.

Antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri, sedangkan obat pereda nyeri dan cairan dapat diberikan sesuai kebutuhan. Jenis antibiotik tidak sebaiknya dipilih atau digunakan sendiri karena terapi perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan pola bakteri yang diduga menjadi penyebab.

Tonsilektomi Bisa Dipertimbangkan pada Kondisi Tertentu

Pengangkatan amandel atau tonsilektomi tidak otomatis dilakukan pada setiap kasus abses peritonsil.

Tindakan tersebut dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu, terutama bila abses berulang, terdapat riwayat tonsilitis berulang, atau terdapat indikasi lain untuk menjalani operasi amandel.

Evaluasi oleh dokter spesialis THT diperlukan untuk menentukan apakah prosedur tersebut dibutuhkan.

Jangan Abaikan Risiko Komplikasi

Abses peritonsil harus mendapatkan penanganan karena infeksi dapat menyebar ke jaringan yang lebih dalam di leher. Dalam kasus berat, pembengkakan juga dapat mengganggu jalan napas.

Komplikasi lain yang dilaporkan meliputi penyebaran infeksi ke ruang leher yang lebih dalam, pneumonia akibat aspirasi apabila abses pecah, hingga infeksi sistemik. Komplikasi serius memang tidak terjadi pada semua penderita, tetapi risiko tersebut menjadi alasan pemeriksaan dan penanganan tidak sebaiknya ditunda.

Segera mencari pertolongan medis apabila sakit tenggorokan berat disertai kesulitan bernapas, kesulitan menelan air liur, tidak mampu makan atau minum, sulit membuka mulut, atau pembengkakan tenggorokan yang semakin berat.

Informasi kesehatan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis maupun penanganan langsung oleh dokter.