Aksi tersebut awalnya dilakukan untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban atas kematian Jowa. Namun, situasi kemudian memanas dan berkembang menjadi penyerangan serta perusakan fasilitas kepolisian.
Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra mengatakan ruangan Kepala Bagian Sumber Daya Manusia, Wakapolres, Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu, dan beberapa ruangan lain mengalami kerusakan.
Massa juga membakar satu mobil patroli milik kepolisian. Kaca yang pecah, batu, dan kayu berserakan di sekitar lokasi setelah kericuhan berlangsung.
Di tengah peristiwa tersebut, seorang warga berinisial MBP (20), yang dalam sejumlah laporan disebut bernama Marsel, ditemukan meninggal di sekitar lokasi penyerangan.
Polda NTT menyatakan penyebab kematian warga tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan kedokteran dan investigasi berbasis ilmiah. Karena itu, penyebab kematiannya belum dapat disimpulkan.
Henry menegaskan personel yang mengamankan Mapolres Sumba Barat tidak menggunakan peluru tajam. Menurut dia, petugas menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk menghalau massa.
Pernyataan itu masih menjadi bagian dari keterangan resmi kepolisian. Hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan terhadap bukti di lapangan dibutuhkan untuk memastikan penyebab kematian korban secara objektif.
TNI Dikerahkan Perkuat Pengamanan
Personel Kodim 1613/Sumba Barat bersama Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 930/Toda Tebi dikerahkan setelah Kapolres Sumba Barat meminta bantuan pengamanan kepada Dandim 1613/Sumba Barat.
Puluhan personel TNI ditempatkan di sekitar Mapolres Sumba Barat. Selain memperkuat penjagaan, mereka melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperbesar konflik.













