Robekan dapat terjadi sebagian maupun sepenuhnya. Gejalanya dapat berbeda tergantung luas dan lokasi kerusakan tendon.
Mengapa Tendon Achilles Bisa Robek?
Ruptur paling sering terjadi akibat peningkatan tekanan secara mendadak pada tendon. Aktivitas yang melibatkan lompatan, perubahan arah dengan cepat, sprint, atau gerakan mendorong kaki secara kuat dapat memicu cedera.
Jatuh dari ketinggian, mendarat setelah melompat, atau menginjak lubang juga dapat membuat tendon teregang secara tiba-tiba.
Sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko. Achilles tendon rupture lebih sering terjadi pada kelompok usia 30–40 tahun dan pada olahraga yang melibatkan lari, lompatan, serta perubahan arah mendadak. Obesitas juga menambah beban pada tendon.
Penggunaan antibiotik golongan fluoroquinolone seperti ciprofloxacin dan levofloxacin juga dikaitkan dengan peningkatan risiko robekan tendon Achilles. Suntikan kortikosteroid di area sekitar tendon dapat melemahkan jaringan tendon.
Riwayat gangguan tendon Achilles sebelumnya juga dapat membuat tendon lebih rentan mengalami cedera.
Pemeriksaan Fisik Penting untuk Diagnosis
Dokter biasanya menanyakan aktivitas yang dilakukan ketika cedera terjadi, gejala yang dirasakan, riwayat penyakit, serta obat-obatan yang sedang digunakan.
Pemeriksaan fisik dapat menemukan pembengkakan, memar, nyeri tekan, atau celah pada bagian tendon yang mengalami robekan.
Salah satu pemeriksaan yang umum dilakukan adalah calf squeeze test atau Thompson test. Dokter menekan otot betis ketika pasien dalam posisi tertentu. Pada tendon yang normal, tekanan tersebut membuat kaki bergerak ke arah bawah. Jika tendon mengalami ruptur lengkap, gerakan tersebut dapat tidak terjadi.
