INDONESIA, MIMBARBANGSA.COM — AI kini hadir dalam kehidupan sehari-hari tanpa selalu disadari penggunanya. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence tidak lagi terbatas pada laboratorium, perusahaan teknologi besar, atau perangkat canggih, tetapi mulai digunakan dalam berbagai layanan digital yang dekat dengan aktivitas masyarakat.
Saat ponsel membantu memperbaiki hasil foto, aplikasi memberikan rekomendasi tontonan, layanan peta menyarankan rute perjalanan, sistem menyaring pesan spam, atau pengguna meminta bantuan aplikasi AI untuk membuat ringkasan, teknologi kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari proses di balik layanan tersebut.
Perkembangan ini memberi banyak kemudahan. Namun, pemanfaatan AI juga membawa sejumlah risiko, mulai dari informasi yang tidak akurat, persoalan privasi, penyalahgunaan data hingga potensi manipulasi konten digital.
AI Sudah Dekat dengan Aktivitas Masyarakat
Istilah kecerdasan buatan mencakup teknologi yang memungkinkan komputer memproses data dan menjalankan tugas tertentu yang biasanya membutuhkan kemampuan analisis atau pengenalan pola.
Dalam Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial, kecerdasan artifisial didefinisikan sebagai bentuk pemrograman pada perangkat komputer untuk melakukan pemrosesan dan atau pengolahan data secara cermat.
Pemanfaatannya dapat ditemukan pada pemrosesan bahasa, machine learning, deep learning, sistem rekomendasi, pengenalan gambar hingga berbagai bentuk otomatisasi digital.
Bagi masyarakat, teknologi tersebut tidak selalu terlihat sebagai AI. Pengguna cukup merasakan hasilnya melalui layanan yang menjadi lebih cepat, personal atau otomatis.
Manfaat AI dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu manfaat utama kecerdasan buatan adalah membantu pekerjaan menjadi lebih efisien.
Dalam kegiatan belajar, misalnya, AI dapat membantu menjelaskan istilah, menyusun bahan latihan, merangkum informasi atau memberikan contoh untuk memahami suatu topik. Pengguna tetap perlu memeriksa kembali hasil tersebut karena jawaban AI tidak selalu akurat.
Dalam pekerjaan, AI dapat digunakan untuk membantu menyusun rancangan dokumen, mengelompokkan data, menerjemahkan teks, mencari pola pada informasi atau melakukan pekerjaan administratif yang berulang.
Pelaku usaha juga dapat memanfaatkannya dalam layanan pelanggan, rekomendasi produk, analisis data hingga pembuatan materi awal untuk kegiatan pemasaran.
AI juga memiliki potensi manfaat di bidang produktivitas, kesehatan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, manfaat tersebut perlu dibarengi dengan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Risiko AI yang Perlu Diwaspadai
Manfaat besar tidak membuat AI bebas dari kelemahan.
Salah satu risiko yang paling penting adalah kemungkinan munculnya informasi keliru. Sistem AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi tidak sesuai fakta atau kehilangan konteks penting.
Karena itu, informasi yang berkaitan dengan kesehatan, hukum, keuangan, pendidikan, pemerintahan maupun kepentingan publik sebaiknya selalu diperiksa kembali menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Risiko berikutnya menyangkut privasi dan data pribadi. Pengguna sebaiknya tidak sembarangan memasukkan nomor identitas, password, informasi rekening, dokumen internal perusahaan, data kesehatan atau informasi rahasia lainnya ke layanan AI.
Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi yang memberikan landasan hukum mengenai pelindungan data pribadi dan hak subjek data pribadi.
AI Bisa Digunakan untuk Membuat Konten Palsu
AI generatif mampu menghasilkan teks, gambar, suara hingga video. Kemampuan tersebut dapat digunakan untuk berbagai aktivitas kreatif dan produktif.
Namun, teknologi yang sama juga dapat disalahgunakan untuk membuat konten menyesatkan, menyamar sebagai orang lain atau menghasilkan materi yang seolah-olah berasal dari kejadian nyata.
Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis terhadap konten digital, terutama ketika menemukan rekaman suara, gambar atau video yang belum diketahui sumber aslinya.
Informasi penting sebaiknya diperiksa melalui sumber resmi, media kredibel atau pihak yang terlibat langsung sebelum diteruskan kepada orang lain.
Bias dan Keputusan AI Juga Perlu Diperhatikan
Sistem AI bekerja berdasarkan data, rancangan sistem dan tujuan penggunaannya. Jika data atau proses pengembangannya memiliki kekurangan, hasil AI juga dapat membawa kesalahan atau bias.
Prinsip etika internasional menempatkan keadilan, transparansi, privasi, keamanan dan pengawasan manusia sebagai bagian penting dalam penggunaan kecerdasan buatan.
Artinya, AI sebaiknya menjadi alat pendukung, bukan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan penting yang berdampak pada seseorang.
Indonesia Sudah Memiliki Pedoman Etika AI
Indonesia telah memiliki Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
Dokumen tersebut menetapkan sejumlah nilai dalam penyelenggaraan AI, di antaranya inklusivitas, kemanusiaan, keamanan, aksesibilitas, transparansi, kredibilitas dan akuntabilitas, pelindungan data pribadi, pembangunan berkelanjutan serta kekayaan intelektual.
Pedoman itu juga menempatkan AI sebagai pendukung aktivitas manusia dan mendorong adanya pengawasan untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.
Cara Menggunakan AI dengan Lebih Aman
Masyarakat tidak perlu menghindari AI, tetapi perlu memahami batas penggunaannya.
Gunakan AI sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyederhanakan pekerjaan atau memperoleh gambaran awal suatu persoalan. Setelah itu, lakukan pemeriksaan terhadap informasi penting.
Hindari memasukkan data pribadi atau dokumen rahasia apabila tidak diperlukan. Perhatikan pula kebijakan privasi dari layanan yang digunakan.
Untuk pekerjaan akademik, jurnalistik, hukum, kesehatan atau aktivitas profesional lainnya, sumber asli tetap perlu diperiksa sebelum hasil AI digunakan atau dipublikasikan.
Pengguna juga perlu membedakan antara hasil yang dibuat AI dengan fakta yang telah diverifikasi.
AI Tetap Membutuhkan Kendali Manusia
AI kini hadir dalam kehidupan sehari-hari dan kemungkinan akan semakin terintegrasi dalam berbagai layanan digital.
Manfaatnya dapat membantu masyarakat bekerja lebih cepat, memperoleh informasi, belajar dan menyelesaikan berbagai tugas. Namun, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan.
Kemampuan menggunakan AI secara bijak bukan hanya soal mengetahui cara memberikan perintah kepada mesin. Literasi AI juga mencakup kemampuan memeriksa informasi, menjaga privasi, memahami risiko dan mengetahui kapan keputusan tetap harus berada di tangan manusia.
Dengan pendekatan tersebut, kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung tanpa menghilangkan sikap kritis dan tanggung jawab penggunanya.




Komentar
0 tanggapan