NIAS SELATAN, MIMBARBANGSA.COM — Nama Hanati Nazara kembali mendapat perhatian setelah putranya, Prof. Suahasil Nazara, resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Suahasil dilantik untuk sisa masa jabatan Kabinet Merah Putih periode 2024–2029 menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelum dipercaya sebagai Menteri Keuangan, Suahasil telah memiliki perjalanan panjang di Kementerian Keuangan, termasuk menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019.
Di balik perjalanan karier Suahasil, nama ayahnya memiliki jejak tersendiri dalam sejarah pemerintahan Kepulauan Nias. Hanati Nazara, S.H. merupakan mantan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nias yang kemudian juga berkiprah di tingkat nasional sebagai anggota DPR RI.
Hubungan keluarga Hanati dan Suahasil pernah dicatat secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Nias. Ketika Suahasil berkunjung ke Nias pada September 2023 dalam kapasitasnya sebagai Wakil Menteri Keuangan, rombongan mengunjungi Pendopo Kabupaten Nias dan melihat prasasti yang pernah ditandatangani Hanati ketika menjabat sebagai Bupati Nias.
Bupati Nias Periode 1981–1986
Catatan resmi Pemerintah Kabupaten Nias menempatkan Hanati Nazara sebagai Bupati Kepala Daerah Kabupaten Nias periode 1981–1986. Ia menggantikan Dalimend yang memimpin pada periode 1975–1981 dan kemudian digantikan S.M. Mendrofa untuk periode 1986–1991.
Sebelum menjadi bupati, Hanati telah memiliki pengalaman dalam birokrasi pemerintahan. Sejumlah catatan mengenai perjalanan pemerintahan Nias menyebut dirinya pernah dipercaya sebagai Sekretaris Wilayah Daerah Nias pada masa kepemimpinan Dalimend.
Dalam periode tersebut, Hanati juga dikaitkan dengan penyusunan Panca Program Nias bersama pemerintah daerah. Program itu mencakup sejumlah sektor pembangunan, antara lain perhubungan, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan pariwisata.
Hanati juga tercatat memiliki keterkaitan dengan dunia pendidikan tinggi di Nias. Sejumlah catatan biografis menyebut dirinya pernah dipercaya memimpin IKIP Gunungsitoli sebagai rektor pada periode 1977–1984.
Masa kepemimpinannya di lembaga pendidikan tersebut beririsan dengan perjalanan kariernya dalam pemerintahan daerah dan beberapa tahun awal ketika dirinya menjabat sebagai Bupati Nias.
Perhatian terhadap Infrastruktur Nias
Dalam perjalanan pemerintahannya, Hanati juga dikenal memiliki perhatian terhadap pembangunan fasilitas perhubungan di Nias.
Sejumlah catatan sejarah menyebut pemerintahan pada masa itu melanjutkan pembangunan maupun perbaikan fasilitas pelabuhan dan sarana transportasi yang telah dirintis pada periode pemerintahan sebelumnya.
Infrastruktur perhubungan memiliki peranan penting bagi wilayah kepulauan seperti Nias karena menjadi penghubung mobilitas masyarakat, distribusi barang, kegiatan ekonomi, serta hubungan antara Nias dengan wilayah lain di Sumatera Utara.
Dari Nias Menuju DPR RI
Setelah menyelesaikan masa jabatan sebagai Bupati Nias, perjalanan politik Hanati kemudian berlanjut hingga tingkat nasional.
Pada Pemilu 1997, Hanati terpilih menjadi anggota DPR RI melalui Golkar dari wilayah Sumatera Utara. Keberadaannya sebagai anggota parlemen dapat ditemukan dalam arsip resmi DPR RI.
Risalah DPR periode 1998–1999 mencantumkan nama Hanati Nazara, S.H. sebagai anggota Fraksi Karya Pembangunan.
Arsip rapat kerja Komisi II DPR RI pada 24 Maret 1999 juga mencatat nama Hanati dalam daftar anggota Komisi II yang menghadiri pembahasan bersama Menteri Dalam Negeri.
Masa pengabdiannya di DPR RI berlangsung hingga 1999, bertepatan dengan masa perubahan politik nasional menuju era Reformasi.
Hanati masih tercatat mencoba kembali ke parlemen beberapa tahun kemudian. Dalam Pemilu 2004, namanya muncul sebagai calon anggota DPR RI melalui Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara II, namun tidak memperoleh kursi.
Kembali Terlibat dalam Pemulihan Pascabencana Nias
Jejak Hanati di tengah masyarakat Nias kembali terlihat setelah rangkaian bencana besar melanda kawasan barat Indonesia.
Nias menjadi salah satu wilayah yang terdampak tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004. Tiga bulan kemudian, pada 28 Maret 2005, gempa besar Nias–Simeulue menyebabkan kerusakan berat di Pulau Nias dan sejumlah wilayah di sekitarnya.
Dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, dokumentasi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Perwakilan Nias pada 2006 mencatat Hanati sebagai salah satu anggota tim ad hoc yang melibatkan unsur masyarakat.
Tim tersebut berperan dalam mendorong keterlibatan masyarakat serta membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan rehabilitasi, rekonstruksi, tata kelola, dan komunikasi antara masyarakat dengan pihak yang terlibat dalam pemulihan Nias.
Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa perhatian Hanati terhadap Nias tidak berhenti setelah masa jabatannya sebagai kepala daerah maupun anggota parlemen berakhir.
Wafat pada 2025
Sejumlah pemberitaan mengenai riwayat hidup Hanati mencatat bahwa ia meninggal dunia di Jakarta pada 1 Oktober 2025 dalam usia sekitar 90 tahun.
Hampir setahun setelah kepergiannya, putranya, Suahasil Nazara, mendapat amanah baru sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Sebelum mencapai posisi tersebut, Suahasil telah menempuh perjalanan panjang sebagai akademisi dan ekonom. Ia memulai karier sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia pada 1999 dan kemudian menjadi guru besar pada 2009.
Kariernya berlanjut dalam pemerintahan ketika dipercaya memimpin Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan pada 2016–2019, sebelum kemudian diangkat menjadi Wakil Menteri Keuangan pada 2019.
Suahasil merupakan lulusan Universitas Indonesia dan melanjutkan pendidikan ekonomi di Cornell University serta University of Illinois at Urbana-Champaign.
Jejak Dua Generasi dari Nias ke Tingkat Nasional
Pelantikan Suahasil sebagai Menteri Keuangan pada September 2026 membuat nama Hanati kembali dikenang, khususnya di tengah masyarakat Kepulauan Nias.
Meski berada dalam generasi dan jalur karier yang berbeda, keduanya memiliki catatan pengabdian dalam pemerintahan Indonesia.
Hanati membangun perjalanan karier melalui birokrasi daerah, pendidikan tinggi, kepemimpinan Kabupaten Nias hingga parlemen nasional. Sementara Suahasil lebih banyak berkembang melalui dunia akademik, kebijakan fiskal, dan pemerintahan pusat.
Dalam perjalanan dua generasi tersebut, nama keluarga Nazara tercatat dari pemerintahan daerah di Kepulauan Nias hingga jabatan strategis di tingkat nasional.
