Dalam buku tersebut, “Gua Tempat Laowomaru” ditempatkan dalam kelompok cerita dengan tokoh mitologis, bukan biografi tokoh sejarah. Lokasinya digambarkan sekitar 7.200 meter dari Gunung Sitoli ke arah Idanogawo, dengan gua berada di kawasan batu yang menghadap laut.
Sembilan rambut yang menjadi sumber kekuatan
Versi yang didokumentasikan pemerintah itu menghubungkan Laowomaru dengan Lahari dan Sirao. Menurut cerita tersebut, Lahari menikahi Iwowotonasi, lalu lahirlah Laowomaru dengan sembilan helai rambut yang digambarkan seperti besi atau kawat. Rambut inilah yang dalam legenda dipercaya menjadi sumber kekebalannya.
Ketika tumbuh dewasa, Laowomaru dalam versi ini tidak digambarkan sebagai pahlawan tanpa cela. Ia justru disebut merampas barang dagangan orang yang melewati wilayahnya dan menyimpan hasil rampasan di dalam gua. Berbagai usaha menangkap atau melukainya dikisahkan selalu gagal karena tubuhnya dianggap kebal.
Laowomaru kemudian menikah dengan perempuan bernama Sihoi dan mempunyai seorang anak laki-laki. Dalam salah satu episode, ia berusaha mewariskan kekebalannya kepada sang anak. Upaya tersebut berakhir tragis setelah sebuah pantangan dilanggar dan anaknya meninggal.
Cerita berkembang semakin fantastis. Laowomaru dikisahkan berusaha menghubungkan Pulau Nias dengan Sumatera. Usaha itu gagal setelah salah seorang yang membantunya melanggar syarat perjalanan. Dalam bagian lain muncul Haria, seekor ular laut raksasa yang akhirnya dibunuh Laowomaru. Unsur-unsur seperti ini harus dibaca sebagai bagian dari struktur folklor, bukan sebagai kejadian geografis atau biologis yang telah dibuktikan secara sejarah.








