GUNUNGSITOLI, MIMBARBANGSA.COM — Nama Laowomaru masih melekat kuat pada lanskap dan ingatan budaya masyarakat Nias. Di kawasan Fodo, Gunungsitoli Selatan, nama itu bukan hanya hadir sebagai tokoh cerita rakyat, tetapi juga sebagai penanda tempat: gua di dinding karang dan kawasan jalan pesisir yang hingga kini dikenal sebagai Laowomaru.
Pemerintah Kota Gunungsitoli pada 2019 memperkenalkan Laowomaru sebagai gua bersejarah sekaligus jalan ikonik. Dalam keterangan pemerintah kota, dinding karang di kawasan tersebut memiliki beberapa lubang kecil yang menurut cerita setempat dipercaya sebagai pintu masuk ke gua Laowomaru. Sumber resmi itu sendiri menggunakan ungkapan “konon”, sehingga keberadaan kawasan dan guanya dapat dibedakan dari cerita kesaktian yang menyertainya.
Jejak dokumentasi tertulis
Jejak dokumentasi Laowomaru dapat ditemukan dalam publikasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan berjudul Ceritera Rakyat Daerah Sumatera Utara. Buku yang diterbitkan pada 1982 itu berasal dari Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah tahun 1979/1980. Dalam pengantarnya, penyusun menyatakan pekerjaan tersebut masih merupakan tahap pencatatan dan belum menjadi penelitian yang mendalam.
Nilai dokumenternya cukup penting. Tim proyek menjelaskan bahwa cerita rakyat dikumpulkan melalui kegiatan lapangan pada Juli hingga September 1979, direkam, ditranskripsikan ke dalam bahasa daerah, kemudian diterjemahkan dan disusun dalam bahasa Indonesia. Artinya, versi yang diterbitkan mempunyai jejak pengumpulan tradisi lisan, meskipun isi legendanya tidak otomatis dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah.
Dalam buku tersebut, “Gua Tempat Laowomaru” ditempatkan dalam kelompok cerita dengan tokoh mitologis, bukan biografi tokoh sejarah. Lokasinya digambarkan sekitar 7.200 meter dari Gunung Sitoli ke arah Idanogawo, dengan gua berada di kawasan batu yang menghadap laut.
Sembilan rambut yang menjadi sumber kekuatan
Versi yang didokumentasikan pemerintah itu menghubungkan Laowomaru dengan Lahari dan Sirao. Menurut cerita tersebut, Lahari menikahi Iwowotonasi, lalu lahirlah Laowomaru dengan sembilan helai rambut yang digambarkan seperti besi atau kawat. Rambut inilah yang dalam legenda dipercaya menjadi sumber kekebalannya.
Ketika tumbuh dewasa, Laowomaru dalam versi ini tidak digambarkan sebagai pahlawan tanpa cela. Ia justru disebut merampas barang dagangan orang yang melewati wilayahnya dan menyimpan hasil rampasan di dalam gua. Berbagai usaha menangkap atau melukainya dikisahkan selalu gagal karena tubuhnya dianggap kebal.
Laowomaru kemudian menikah dengan perempuan bernama Sihoi dan mempunyai seorang anak laki-laki. Dalam salah satu episode, ia berusaha mewariskan kekebalannya kepada sang anak. Upaya tersebut berakhir tragis setelah sebuah pantangan dilanggar dan anaknya meninggal.
Cerita berkembang semakin fantastis. Laowomaru dikisahkan berusaha menghubungkan Pulau Nias dengan Sumatera. Usaha itu gagal setelah salah seorang yang membantunya melanggar syarat perjalanan. Dalam bagian lain muncul Haria, seekor ular laut raksasa yang akhirnya dibunuh Laowomaru. Unsur-unsur seperti ini harus dibaca sebagai bagian dari struktur folklor, bukan sebagai kejadian geografis atau biologis yang telah dibuktikan secara sejarah.
Sihoi dan berakhirnya kesaktian
Puncak kisah terjadi ketika Sihoi mengetahui rahasia kekuatan suaminya. Laowomaru disebut mengungkapkan bahwa sembilan rambut kawat di kepalanya tidak boleh dicabut karena jika rambut itu hilang, kekuatannya juga akan lenyap.
Dalam versi dokumentasi 1982, sekelompok pedagang dari Johor kemudian menangkap Sihoi dan memaksanya membuka rahasia tersebut. Setelah sembilan rambut Laowomaru dicabut, ia kehilangan kekuatannya dan meninggal.
Asal-usul Laowomaru ternyata tidak tunggal
Menariknya, cerita mengenai asal-usul Laowomaru tidak seragam. Victor Zebua, penulis Jejak Cerita Rakyat Nias, dalam sebuah telaah yang merujuk sejumlah literatur lama mencatat adanya versi berbeda. Ia menyebut transkripsi L.N.H.A. Chatelin pada 1881 dan J.P. Kleiweg de Zwaan pada 1911 mengandung cerita yang mengaitkan Laowomaru, dengan variasi nama Laubo Maros, dengan Bugis atau Sulawesi.
Sebaliknya, versi yang disebut berasal dari Sundermann pada 1923 menghubungkan Laowomaru dengan Lahari dan garis leluhur Nias. Tradisi yang mengaitkannya dengan Lahari juga sejalan dengan versi yang kemudian didokumentasikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Perbedaan ini tidak selayaknya diselesaikan dengan memilih salah satu versi secara sembarangan. Transkripsi asli Chatelin, de Zwaan, dan Sundermann belum seluruhnya dapat diperiksa langsung melalui sumber digital dalam penelusuran ini. Karena itu, versi Bugis dan versi garis keturunan Nias sebaiknya dicatat sebagai varian tradisi yang berbeda, bukan sebagai penetapan final mengenai identitas historis Laowomaru.
Legenda yang terus hidup
Kajian modern juga tetap memperlakukan Laowomaru sebagai folklor dan warisan budaya. Penelitian yang diterbitkan Universitas Palangka Raya pada 2025 menggunakan kisah Laowomaru sebagai inspirasi penciptaan tari kontemporer. Pada 2026, peneliti Universitas Negeri Medan membahas transformasi nilai tradisional dalam folklor Laowomaru di tengah masyarakat Nias modern.
Nama tokoh ini sendiri muncul dalam sejumlah ejaan, antara lain Laowomaru, Lawomaru, Laoŵömaru, dan Laowömaru. Variasi tersebut penting ketika menelusuri arsip karena pencarian menggunakan satu ejaan saja dapat melewatkan sumber lain.
Karena itu, pertanyaan tentang siapa Laowomaru sebenarnya belum dapat dijawab seperti biografi tokoh sejarah yang mempunyai tanggal lahir, masa hidup, atau arsip pemerintahan yang pasti. Sumber yang ditelusuri belum memberikan kronologi kehidupan seperti itu.
Yang lebih kuat justru jejak budayanya: sebuah gua dan kawasan nyata di Fodo, tradisi lisan yang diwariskan lintas generasi, dokumentasi pemerintah sejak penghujung 1970-an, serta beragam versi cerita yang terus dibicarakan dan diteliti.
Menjaga kisah Laowomaru bukan berarti mengubah legenda menjadi fakta. Nilainya justru terletak pada kemampuan masyarakat merawat ingatan budaya sambil tetap membedakan antara tempat yang nyata, dokumentasi yang dapat diperiksa, dan unsur legenda yang hidup dalam tradisi lisan Nias.








