Minggu, 4 Oktober 2026 • 05:48 WIB
Dari Rakyat, Untuk Indonesia yang Lebih Baik
BERITA TERKINI ⚡

Bukan Kopinya, Suhu Terlalu Panas yang Disorot: Studi Kaitkan Minuman di Atas 65°C dengan Risiko Kanker

Studi besar terhadap lebih dari 977 ribu orang menemukan kaitan antara minuman sangat panas dan peningkatan risiko kanker kerongkongan. Faktor yang disorot adalah suhu, bukan kopi itu sendiri.

Dengarkan Berita Siap membacakan artikel ini.
0 dari 0 bagian
Ilustrasi kopi sangat panas dengan suhu di atas 65 derajat Celsius terkait risiko kanker kerongkongan.
Bukan Kopinya, Suhu Terlalu Panas yang Disorot: Studi Kaitkan Minuman di Atas 65°C dengan Risiko Kanker

NIAS SELATAN, MIMBARBANGSA.COM — Kebiasaan menikmati kopi atau teh dalam kondisi sangat panas kembali menjadi perhatian setelah penelitian berskala besar menemukan kaitan antara suhu minuman dan risiko kanker kerongkongan tertentu. Studi terbaru menganalisis data lebih dari 977 ribu orang dewasa paruh baya di Inggris dan mengikuti mereka selama sekitar 14 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang terbiasa memilih minuman sangat panas memiliki risiko lebih tinggi mengalami karsinoma sel skuamosa pada kerongkongan dibanding mereka yang memilih minuman hangat. Temuan tersebut tidak berarti kopi menjadi penyebab langsung kanker, karena faktor yang disorot justru suhu ketika minuman dikonsumsi.

Data penelitian menunjukkan peserta yang menyukai minuman kategori “panas” memiliki risiko hampir dua kali lipat dibanding kelompok yang memilih minuman hangat, sedangkan kelompok “sangat panas” memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi. Dari sekitar 977 ribu peserta yang dianalisis, sebanyak 2.348 orang kemudian didiagnosis mengalami kanker kerongkongan selama masa pemantauan. Penelitian tersebut juga menemukan konsumsi enam cangkir atau lebih minuman panas per hari berkaitan dengan peningkatan risiko sekitar 71 persen untuk jenis kanker yang diteliti. Namun, angka-angka tersebut menunjukkan hubungan statistik dan tidak membuktikan bahwa setiap orang yang minum kopi panas akan terkena kanker.

Bukan Kopi yang Menjadi Pokok Masalah

Poin penting dari penelitian ini adalah membedakan antara jenis minuman dan suhu minuman ketika masuk ke tubuh. International Agency for Research on Cancer atau IARC, lembaga kanker Organisasi Kesehatan Dunia, sejak 2016 mengklasifikasikan konsumsi minuman dengan suhu di atas 65 derajat Celsius sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia. IARC menyebut klasifikasi itu didasarkan pada bukti mengenai hubungan antara minuman sangat panas dan kanker kerongkongan. Dengan demikian, perhatian utamanya bukan apakah minuman itu kopi, teh, atau jenis lainnya, melainkan paparan panas tinggi secara berulang pada kerongkongan.

IARC juga menegaskan bahwa kategori tersebut tidak dapat digunakan untuk menghitung secara pasti seberapa besar risiko seseorang hanya berdasarkan satu atau beberapa kali minum minuman sangat panas. Lembaga itu menyatakan proporsi kasus kanker kerongkongan yang secara langsung dapat dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi minuman sangat panas belum dapat ditentukan. Bukti yang dinilai IARC menunjukkan risiko cenderung meningkat seiring naiknya suhu minuman, sementara minuman serupa yang dikonsumsi dalam keadaan lebih hangat tidak menunjukkan pola peningkatan yang sama dalam sejumlah penelitian. Artinya, kesimpulan yang lebih tepat adalah adanya faktor risiko potensial, bukan kepastian bahwa minuman panas akan menyebabkan kanker.

Mengapa Panas Bisa Menjadi Masalah?

Salah satu mekanisme yang diduga berperan adalah cedera termal berulang pada lapisan kerongkongan. Paparan suhu tinggi dapat menyebabkan iritasi atau kerusakan pada sel yang melapisi saluran dari tenggorokan menuju lambung, terutama apabila kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang. Peneliti menduga proses cedera dan pemulihan berulang dapat membuat jaringan lebih rentan terhadap perubahan yang berhubungan dengan kanker. Penjelasan ini masih merupakan mekanisme biologis yang dipelajari dan bukan berarti sekali meneguk kopi terlalu panas langsung menyebabkan kanker.

Penelitian sebelumnya di berbagai wilayah juga mendukung hubungan antara suhu sangat tinggi dan kanker kerongkongan. IARC pernah melaporkan bahwa penelitian pada manusia dan hewan menemukan risiko lebih besar pada konsumsi minuman sangat panas, sementara air atau minuman pada suhu lebih rendah tidak menunjukkan pola yang sama. Studi kasus-kontrol di Malawi dan Tanzania yang dipublikasikan pada 2022 juga menemukan risiko karsinoma sel skuamosa kerongkongan lebih tinggi pada kelompok dengan paparan makanan dan minuman sangat panas yang lebih besar. Temuan lintas penelitian tersebut memperkuat alasan untuk memperhatikan suhu konsumsi, meskipun tingkat risiko setiap individu dapat berbeda.

Tidak Perlu Berhenti Minum Kopi

Temuan ini tidak berarti pencinta kopi harus berhenti menikmati kopi atau teh hangat. IARC justru membedakan antara kopi sebagai minuman dan risiko yang berkaitan dengan suhu sangat tinggi, sehingga pesan kesehatan yang relevan adalah menghindari konsumsi ketika minuman masih terlalu panas. Cara paling sederhana adalah memberi waktu beberapa saat setelah kopi atau teh diseduh agar suhunya turun sebelum diminum. Jika minuman masih terasa membakar bibir, lidah, atau mulut, menunggu lebih lama merupakan langkah praktis untuk mengurangi paparan panas.

Batas 65 derajat Celsius bukan berarti setiap tegukan tepat di atas angka tersebut otomatis menimbulkan kanker. Angka itu digunakan IARC sebagai definisi operasional untuk minuman “sangat panas” berdasarkan temuan penelitian pada hewan, studi epidemiologi, dan pengukuran suhu konsumsi di sejumlah populasi. IARC juga menyebut suhu konsumsi teh dan kopi pada kebanyakan wilayah dunia umumnya berada di bawah 65 derajat Celsius. Karena itu, kebiasaan menunggu minuman mendingin menjadi langkah sederhana yang sejalan dengan bukti yang tersedia.

Risiko Kanker Tidak Ditentukan Satu Faktor

Kanker kerongkongan memiliki sejumlah faktor risiko lain yang telah lebih lama diketahui, termasuk merokok dan konsumsi alkohol. IARC menegaskan kedua faktor tersebut merupakan penyebab penting kanker kerongkongan di banyak negara dan tidak seharusnya diabaikan ketika membahas risiko akibat minuman panas. Karena itu, temuan terbaru tentang suhu minuman perlu dilihat sebagai tambahan faktor risiko, bukan satu-satunya penyebab penyakit. Besarnya risiko seseorang tetap dipengaruhi kombinasi kebiasaan, paparan, serta faktor kesehatan lainnya.

Bagi masyarakat yang terbiasa menikmati kopi atau teh sesaat setelah diseduh, perubahan sederhana dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan minuman favorit. Membiarkan minuman turun dari kondisi sangat panas sebelum diseruput dapat mengurangi paparan panas langsung pada kerongkongan. Temuan penelitian besar terbaru memperkuat pesan yang sudah disampaikan IARC selama bertahun-tahun bahwa suhu konsumsi patut diperhatikan. Fokusnya bukan menakuti masyarakat terhadap kopi, melainkan membiasakan cara konsumsi yang lebih aman berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia.

Komentar

0 tanggapan

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FBWAXLINK
×
Pasang MIMBAR BANGSA

Android/Chrome: ketuk menu ⋮, lalu pilih Instal aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

iPhone/Safari: ketuk Bagikan, lalu pilih Tambahkan ke Layar Utama.