INDONESIA, MIMBARBANGSA.COM — Mengeluh tidak selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, menyampaikan rasa kecewa, marah, atau frustrasi kepada orang yang tepat dapat membantu seseorang mengenali emosi dan mulai mencari jalan keluar. Namun, kebiasaan mengeluh berulang tanpa arah justru berisiko membuat pikiran semakin terjebak pada hal negatif.
Psikolog kesehatan klinis Kerry Cannity, PhD, mengatakan mengeluh dapat bermanfaat ketika menjadi sarana untuk menyalurkan emosi negatif, menyampaikan apa yang dirasakan, serta membuka proses pemecahan masalah.
Menurut Cannity, memendam atau menyangkal emosi negatif bukan pula pilihan yang ideal. Seseorang tetap perlu memberi ruang pada perasaan yang muncul, terutama ketika sedang menghadapi tekanan atau persoalan yang belum terselesaikan.
Berbicara dengan orang yang mau mendengarkan juga dapat memberikan rasa dipahami. Dalam banyak situasi, yang dibutuhkan seseorang bukan langsung memperoleh solusi, melainkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakan.
Terapis Sarah Close, LPC, menekankan pentingnya respons pendengar. Menurut dia, dukungan dapat terasa lebih membantu ketika orang yang mendengarkan tidak terburu-buru menyuruh seseorang berhenti merasa sedih, marah, atau kecewa.
Masalah Muncul Saat Keluhan Berubah Menjadi Pola
Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan arah keluhan.
Cannity menjelaskan bahwa mengeluh secara terus-menerus dapat membuat perhatian seseorang semakin tertuju pada pengalaman yang memicu kemarahan, ketakutan, atau frustrasi. Alih-alih membantu penyelesaian masalah, percakapan bisa berputar pada sumber stres yang sama.
Temuan psikologi modern juga menunjukkan bahwa pola pikiran negatif yang berulang atau rumination berkaitan dengan masalah kecemasan dan depresi.
American Psychological Association menjelaskan bahwa repetitive negative thought atau pikiran negatif berulang dapat menjadi upaya seseorang untuk memperoleh rasa kendali ketika menghadapi ancaman atau kehilangan. Namun, bila berlangsung terus-menerus, proses tersebut dapat justru menambah tekanan psikologis.
APA Dictionary of Psychology mendefinisikan trait rumination sebagai kecenderungan memusatkan perhatian pada pikiran dan emosi negatif. Pola tersebut dikaitkan dengan episode depresi atau kecemasan yang lebih lama dan lebih berat.
Karena itu, mengeluh dan rumination tidak bisa disamakan begitu saja. Keluhan yang terarah dapat membantu seseorang mengidentifikasi persoalan, sedangkan rumination cenderung membuat pikiran berulang pada masalah yang sama tanpa menghasilkan langkah konkret.
Curhat Tidak Selalu Membuat Perasaan Lebih Baik
Penelitian yang dirangkum American Psychological Association pada 2025 juga memberikan gambaran menarik mengenai kebiasaan berbagi cerita di tempat kerja.
Dalam dua studi yang melibatkan 358 peserta dan lebih dari 26 ribu percakapan, berbagi informasi positif atau bercerita untuk membangun hubungan dikaitkan dengan kesejahteraan emosional dan rasa keterhubungan yang lebih baik.
Sebaliknya, berbagi informasi negatif atau melakukan venting dikaitkan dengan peningkatan rumination dan kesejahteraan yang lebih rendah. Dampaknya juga dipengaruhi oleh respons orang yang mendengarkan.
Artinya, sekadar mengeluarkan keluhan belum tentu otomatis membuat seseorang merasa lebih baik.
Kualitas percakapan, tujuan mengungkapkan masalah, serta respons lawan bicara ikut menentukan apakah keluhan tersebut membantu atau malah memperpanjang frustrasi.
Coba Periksa Perasaan Setelah Mengeluh
Close menyarankan seseorang mengevaluasi kondisi emosinya setelah menceritakan masalah.
Pertanyaan sederhananya adalah apakah setelah berbicara seseorang merasa lebih dipahami, lebih tenang, atau lebih jelas mengenai langkah yang perlu dilakukan.
Sebaliknya, jika setelah mengeluh seseorang justru semakin marah, kembali mengulang masalah yang sama, atau merasa tidak menemukan arah, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.
Mengubah pola mengeluh bukan berarti memaksa diri selalu berpikir positif atau menyangkal masalah.
Yang lebih penting adalah menggeser percakapan dari sekadar mengulang rasa tidak puas menjadi proses yang membantu mengenali kebutuhan, batasan, dan langkah berikutnya.
Misalnya, setelah menceritakan persoalan, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya bisa saya ubah, siapa yang bisa membantu, dan tindakan kecil apa yang bisa dilakukan sekarang?
Pendekatan seperti itu membuat keluhan berfungsi sebagai pintu masuk menuju pemecahan masalah, bukan menjadi lingkaran pikiran negatif.
Kapan Perlu Mencari Bantuan?
Sesekali merasa kesal, kecewa, atau ingin mengeluh merupakan bagian normal dari kehidupan.
Namun, perhatian lebih serius mungkin diperlukan ketika pikiran negatif terasa sulit dihentikan, mengganggu konsentrasi, tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari.
Harvard Health memasukkan pikiran yang terus berulang dan mengganggu, kekhawatiran berlebihan, serta rumination terhadap situasi di luar kendali sebagai beberapa tanda yang dapat menjadi alasan seseorang mencari bantuan.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan menghapus keluhan sama sekali.
Mengeluh dapat menjadi bagian dari komunikasi emosional yang sehat selama membantu seseorang memahami apa yang dirasakan dan bergerak menuju solusi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika keluhan menjadi kebiasaan yang hanya mengulang frustrasi tanpa membawa kejelasan atau perubahan.


Komentar
0 tanggapan