JAKARTA, MIMBARBANGSA.COM — Sebanyak 300 siswa SMA dan SMK dari 18 sekolah di wilayah DKI Jakarta mengikuti Bimbingan Pra Perkawinan bagi Remaja Usia Sekolah yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama. Kegiatan berlangsung pada Jumat, 16 Oktober 2026, di Auditorium Soka Gakkai Indonesia, Kemayoran, Jakarta Pusat. Program ini dirancang untuk membekali generasi muda dengan pemahaman tentang pengelolaan diri, perencanaan masa depan, serta kesiapan membangun keluarga. Penyelenggara menggandeng Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta tokoh agama Buddha dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Bimbingan Menekankan Kesiapan Diri
Mengusung tema “Mindful and Ready: Bijak Kelola Diri, Penuh Cinta, Rancang Masa Depan”, kegiatan dikemas melalui talkshow interaktif, diskusi, sesi tanya jawab, dan kuis. Materinya mencakup pemahaman perkawinan dalam perspektif agama Buddha, pengelolaan emosi, komunikasi yang sehat, serta penyelesaian konflik. Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai upaya menghindari perilaku berisiko selama masa remaja. Pendekatan tersebut menempatkan kesiapan pribadi dan perencanaan kehidupan sebagai bagian penting dari pendidikan bagi generasi muda.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menekankan pentingnya pembinaan yang mencakup pengetahuan, moralitas, dan spiritualitas. Dalam keterangannya yang dipublikasikan Kementerian Agama, ia menjelaskan bahwa remaja perlu dibekali kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Ia juga mengingatkan bahwa membangun keluarga tidak cukup hanya mengandalkan perasaan atau keinginan untuk hidup bersama. Kesiapan mental, fisik, dan finansial menjadi bagian yang perlu dipahami sebelum seseorang memasuki kehidupan berkeluarga.
Pendidikan dan Karier Tetap Menjadi Perhatian
Program tersebut juga mengangkat pentingnya perencanaan pendidikan, karier, dan kehidupan berkeluarga melalui pendekatan Generasi Berencana atau GenRe. Dalam publikasi resmi Kementerian Agama, perwakilan program tersebut, Fitri, turut mengenalkan dukungan teman sebaya, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta akses konsultasi ketika remaja membutuhkan pendampingan. Dukungan semacam ini dapat menjadi sarana bagi pelajar untuk mencari informasi dan bantuan saat menghadapi persoalan pribadi. Dengan demikian, pembekalan tidak hanya berfokus pada perkawinan, tetapi juga mencakup proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Perencanaan masa depan mencakup beberapa tahapan, mulai dari menyelesaikan pendidikan hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Remaja juga didorong memahami bahwa kehidupan berkeluarga memerlukan pertimbangan yang matang dan tidak semestinya dijalani secara terburu-buru. Materi mengenai pengelolaan emosi dan komunikasi membantu peserta mengenali pentingnya hubungan yang sehat serta kemampuan menyelesaikan perbedaan. Pembekalan tersebut diarahkan agar peserta dapat menyusun prioritas hidup sesuai dengan tahap perkembangan dan tujuan masing-masing.
Nilai-Nilai Buddha dalam Hubungan yang Harmonis
Praktisi sekaligus tokoh agama Buddha, Toni Yoyo, turut memberikan perspektif mengenai pengembangan diri dan persiapan kehidupan berkeluarga. Ia mengajak para pelajar memanfaatkan masa remaja untuk mengenali diri, mengembangkan kebijaksanaan, dan merencanakan masa depan. Dalam perspektif ajaran Buddha yang dijelaskannya, hubungan harmonis berkaitan dengan kesamaan dalam keyakinan atau saddhā, moralitas atau sīla, kedermawanan atau cāga, serta kebijaksanaan atau paññā. Nilai-nilai tersebut dipaparkan sebagai bagian dari pemahaman tentang hubungan yang tidak hanya bertumpu pada perasaan.
Toni juga menekankan nilai mettā atau cinta kasih dan karuṇā atau belas kasih dalam membangun hubungan antarmanusia. Penerapannya antara lain melalui kemampuan mengelola emosi, mendengarkan dengan baik, berkomunikasi tanpa menyakiti, serta mempertimbangkan dampak keputusan terhadap diri sendiri dan orang lain. Ia mengingatkan para pelajar Buddhis mengenai pentingnya mempersiapkan diri sebelum memasuki kehidupan berkeluarga. Dalam pernyataan yang dimuat Kementerian Agama, Toni menegaskan bahwa perkawinan dini bukanlah pilihan yang bijak.
Pembekalan untuk Masa Depan Remaja
Kegiatan ini menunjukkan upaya Ditjen Bimas Buddha untuk memasukkan pendidikan mengenai kesiapan berkeluarga ke dalam pembinaan remaja usia sekolah. Materi yang diberikan mencakup aspek pribadi, sosial, moral, spiritual, dan perencanaan masa depan. Kolaborasi dengan BKKBN serta tokoh agama mempertemukan perspektif pembinaan keluarga dengan pendidikan keagamaan dan pengembangan diri. Namun, publikasi kegiatan tersebut belum memuat hasil evaluasi yang dapat digunakan untuk mengukur perubahan pengetahuan atau perilaku peserta setelah mengikuti bimbingan.
Melalui program ini, Ditjen Bimas Buddha berharap para pelajar mampu menjadi pribadi yang bijaksana dan mandiri serta memahami tanggung jawab dalam membangun keluarga yang harmonis. Pesan utama kegiatan bukan mendorong remaja untuk segera menikah, melainkan memberikan pemahaman agar mereka dapat merencanakan kehidupan secara matang. Pendidikan, karier, kesehatan, pengelolaan emosi, dan kesiapan finansial menjadi sejumlah aspek yang perlu dipertimbangkan dalam perjalanan menuju kehidupan dewasa. Pembekalan semacam ini diharapkan membantu generasi muda mengambil keputusan yang bertanggung jawab sesuai dengan tahap kehidupan mereka.






Komentar
0 tanggapan