Kamis, 15 Oktober 2026 • 02:22 WIB
Dari Rakyat, Untuk Indonesia yang Lebih Baik
BERITA TERKINI ⚡

Menko PMK Sugiono Jajaki Dry Ice, Sumsel Siapkan Uji Coba Atasi Kabut Asap

Pemerintah menjajaki teknologi dry ice sebagai alternatif penanganan kabut asap karhutla. Sumatera Selatan bersiap melakukan uji coba di Palembang pada 15 Oktober 2026.

Dengarkan Berita Siap membacakan artikel ini.
0 dari 0 bagian
Menko PMK Sugiono menjajaki dry ice untuk mengatasi kabut asap karhutla. Sumatera Selatan menyiapkan uji coba di Palembang pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Menko PMK Sugiono Jajaki Dry Ice, Sumsel Siapkan Uji Coba Atasi Kabut Asap

PALEMBANG, MIMBARBANGSA.COM — Pemerintah menyiapkan uji coba penggunaan dry ice atau es kering untuk mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Menko PMK Sugiono menyatakan pemerintah masih menelusuri berbagai pilihan teknologi untuk menghadapi persoalan tersebut. Salah satu alternatif yang dikaji ialah penyemaian karbon dioksida padat di atmosfer. Uji coba di sekitar Palembang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Langkah ini menandai upaya pemerintah mencari penanganan tambahan di tengah gangguan kualitas udara di daerah terdampak. Namun, penggunaan dry ice masih berada pada tahap percobaan dan belum dapat disebut sebagai solusi yang terbukti efektif. Hasilnya akan menjadi dasar penerapan lebih luas. Pemerintah juga tetap menjalankan langkah penanggulangan kebakaran dan pengendalian sumber asap melalui instansi terkait.

Persiapan percobaan tersebut ditinjau Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu, 14 Oktober 2026. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru turut mendampingi peninjauan itu. Menurut penjelasan Dudung, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mencari cara mengurangi kabut asap di Sumatera Selatan. Hasil uji coba akan dinilai sebelum metode serupa diterapkan di daerah lain.

Untuk percobaan tersebut, sekitar 1,5 ton dry ice telah disiapkan untuk disebarkan menggunakan pesawat di Palembang. Bahan yang digunakan merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat, bukan es yang terbuat dari air biasa. Pemerintah berharap tindakan ini membantu mengubah kondisi atmosfer yang membuat asap bertahan di dekat permukaan. Harapan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pengukuran sesudah kegiatan berlangsung.

Teknologi Dry Ice dan Lapisan Inversi Atmosfer

Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kajian teknologi ini berkaitan dengan kondisi inversi atmosfer. Dalam kondisi tersebut, lapisan udara dapat menghambat pergerakan vertikal dan menyebabkan polutan, termasuk asap, sulit menyebar. Dry ice sedang diteliti sebagai cara untuk mengatasi kondisi tersebut. Penjelasan itu merupakan dasar pertimbangan uji coba, bukan kesimpulan bahwa metode tersebut pasti berhasil.

BMKG menyebut Palembang termasuk wilayah sasaran karena terdampak kabut asap, sedangkan Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi salah satu daerah sumber asap. Sumber asap dan wilayah terdampak tidak selalu sama. Pergerakan angin dan susunan lapisan udara turut memengaruhi seberapa jauh asap menyebar. Oleh sebab itu, informasi cuaca dan pengamatan atmosfer menjadi bagian penting dalam menilai tindakan yang sedang dicoba.

Pengujian dry ice juga perlu dibedakan dari operasi modifikasi cuaca yang bertujuan membantu pembentukan hujan pada kondisi atmosfer yang mendukung. Data BMKG memperlihatkan bahwa operasi modifikasi cuaca untuk penanganan karhutla telah dilakukan di sejumlah provinsi, termasuk Sumatera Selatan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu pelengkap pemadaman darat ketika kondisi meteorologi memungkinkan. Kehadiran metode baru tidak dengan sendirinya menggantikan operasi yang sudah dijalankan.

Keberhasilan uji coba nantinya tidak cukup dinilai hanya dari langit yang terlihat lebih terang sesaat. Perubahan jarak pandang, kondisi meteorologi, serta konsentrasi partikel pencemar sebelum dan setelah pelaksanaan perlu diperhatikan agar penilaiannya lebih jelas. Pengaruh perubahan cuaca alami juga perlu diperhitungkan. Dengan demikian, keputusan mengenai kelanjutan teknologi dapat didasarkan pada bukti lapangan, bukan sekadar harapan.

Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla

Sehari sebelum persiapan uji coba di Palembang, Sugiono bertemu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026. Pertemuan tersebut membahas penanganan bencana, termasuk karhutla. Kemenko PMK menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaksana penanganan di lapangan. Koordinasi itu diperlukan agar langkah pencegahan dan respons darurat berjalan bersamaan.

Dalam kebijakan penanganan karhutla, pemerintah daerah didorong meningkatkan pengawasan di wilayah rawan kebakaran. Pada saat yang sama, operasi pemadaman darat dan udara serta modifikasi cuaca tetap menjadi bagian dari respons pemerintah. Upaya ini diarahkan untuk membatasi perluasan kebakaran sekaligus menekan produksi asap dari sumbernya. Penanganan di udara menjadi tidak memadai apabila titik api di permukaan terus menghasilkan asap baru.

Penanganan asap juga mendapat perhatian Presiden dalam rapat terbatas pada Senin, 12 Oktober 2026. Rapat membahas karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah berdasarkan laporan BNPB. Pemerintah pusat meminta perkembangan penanganan disampaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Rangkaian koordinasi tersebut menjadi latar keputusan menjajal alternatif teknologi di Sumatera Selatan.

Meski perhatian kini tertuju pada percobaan di Palembang, karhutla membutuhkan penanganan jangka panjang. Pengawasan lahan, pengurangan risiko kebakaran, dan tindakan terhadap pembakaran yang melanggar hukum merupakan bagian dari pengendalian sumber masalah. Setiap tindakan di kawasan terdampak juga perlu memperhatikan kondisi lahan gambut yang berpotensi sulit dipadamkan apabila api telah merambat ke bawah permukaan. Tanpa penanganan sumber kebakaran, kabut asap berisiko muncul kembali sekalipun kualitas udara sempat membaik.

Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan Masyarakat

Persoalan karhutla bukan hanya menyangkut lingkungan dan jarak pandang, melainkan juga kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa asap mengandung partikel halus seperti PM2,5 yang dapat masuk ke paru-paru. Paparan polusi udara semacam ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, perlindungan warga tidak boleh menunggu hasil uji coba teknologi pengurai asap.

Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat membatasi kegiatan luar ruangan ketika kualitas udara buruk dan menggunakan masker respirator seperti N95 apabila harus keluar rumah. Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan orang dengan penyakit penyerta termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Warga juga dianjurkan memantau informasi kualitas udara dan segera mencari pertolongan medis ketika mengalami keluhan pernapasan. Langkah pencegahan tersebut tetap relevan selama kabut asap belum benar-benar mereda.

Selain perlindungan kesehatan, keterbukaan informasi mengenai uji coba dry ice penting bagi masyarakat terdampak. Publik perlu mengetahui jadwal pelaksanaan, lokasi yang menjadi sasaran, serta hasil pengamatan yang dapat diverifikasi setelah kegiatan selesai. Jika hasilnya menjanjikan, pemerintah masih perlu menjelaskan batasan teknologi sebelum memperluas penggunaannya. Sebaliknya, hasil yang belum memadai harus menjadi bahan evaluasi tanpa mengurangi upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran.

Rencana penyemaian dry ice di Sumatera Selatan dengan demikian merupakan percobaan tambahan, bukan pengganti penanganan karhutla yang telah berlangsung. Pemerintah masih harus memastikan apakah pendekatan ini memperbaiki kondisi kabut asap. Selama proses tersebut berjalan, koordinasi lintas instansi, pengendalian api, dan perlindungan kesehatan warga tetap menjadi prioritas. Masyarakat menantikan hasil pengujian yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan sebelum metode serupa dipertimbangkan di daerah lain.

Komentar

0 tanggapan

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan WA f X ➤
5 Menit Melek Hukum GABUNG